Yans Studio, 081320550019,
email yans.juggler@gmail.com

Minggu, 06 Juli 2008

Kuda Renggong

ATRAKSI akrobatik juga kerap muncul dalam kesenian Kuda Renggong atau Kuda Depok yang berkembang di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Kuda renggong ini biasa ditampilkan pada acara-acara sunatan, ulang tahun anak, dan sebagainya.



Namun seperti namanya, kuda renggong-lah yang dominan menampilkan gerakan-gerakan akrobatik. Sementara pelatuk, yaitu saiah seorang pemain Kuda Renggong yang bertindak sebagai penunjuk jalan, hanya sesekali melakukannya.

Kuda yang tampil dalam kuda renggong biasanya dihias dengan aneka pernik warna-warni. budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda. Budak sunat ini pun didandani seperti seorang raja atau ksatria.

Selama pertunjukan, aneka alat musik seperti kendang besar, gong, terompet, genjring atau terbang gede dibunyikan tanpa henti. Seorang sinden biasanya ikut memeriahkan suasana. Beberapa penari akan melenggok menyertai arak-arakan.

Atraksi kuda renggong yang bergerak-gerak seperti menari sangat menarik untuk dilihat. Gerakannya seirama dengan bunyi yang dimainkan. Apabila iramanya lambat, kuda Renggong akan menggerakan tubuhnya dengan lambat pula,. Begitu pula sebaliknya.

Selain gerakan kaki kuda yang berjingkrak-jingkrak, kepala kuda renggong pun ikut bergoyang, mengangguk-angguk.

Baca Selengkapnya......

Jumat, 04 Juli 2008

Zawo-zawo

SENI ketangkasan tradisional lain yang juga sangat menarik adalah zawo-zawo. Ini adalah permainan rakyat Pulau Nias, Sumatra Utara. Permainan ini sudah muncul sejak ribuan tahun lalu.

Pada permainan ini, para pemain akan melompati susunan batu (hompo batu) berbentuk trapesium yang tingginya mencapai dua meter.

Di masa lalu, ketangkasan melompati batu tersebut merupakan prasyarat seorang pemuda untuk memasuki jenjang pernikahan.

Di desa-desa, terutama di Kabupaten Nias Selatan, zawo-zawo masih dimainkan oleh para pemudanya. Namun, bedanya, zawo-zawo yang dimainkan kali ini tak lagi menjadi bagian dari prasyarat bagi seorang pemuda untuk memasuki jenjang pernikahan seperti masa nenek moyang mereka.(*)


Baca Selengkapnya......

Beripat

BERIPAT adalah permainan adu ketangkasan yang sudah sejak sangat lama berkembang di masyarakat Belitung.

Dua orang yang terlibat dalam beripat akan berada di satu arena. Merekalah yang kemudian beradu ketangkasan dengan menggunakan sejenis cambuk dari rotan sebagai senjata.

Kedua pemain ini akan saling memukul satu sama lain. Target utamanya, cambuk mengenai punggung lawan.

Ada beberapa wasit yang memastikan pertandingan tetap sesuai peraturan. Pemenang pertandingan adalah peserta dengan luka bekas pukulan rotan paling sedikit di punggung.

Para pemain harus memiliki ketangkasan bela diri. Kedua pemain yang beradu ketangkasan tak boleh berasal dari desa yang sama untuk menghindari dendam. (*)


Baca Selengkapnya......

Peresaian

SENI Peresaian berkembang di tanah lombok sejak ribuan tahun lalu. Warga setempat percaya, seni ketangkasan ini adalah peninggalan nenek moyang suku Sasak yang pernah bermukim di sana.

Disebut peresaian karena pada kesenian ini, dua pepadu (petarung) yang berada di gelanggang akan membawa perisai (ende) yang terbuat dari kulit lembu, sapi atau kambing yang sudah dikeringkan dan agak mengeras. Ende ini dijadikan sebagai tameng bagi para pepadu yang akan bertarung.

Para pepadu juga membawa rotang yang akan digunakan sebagai senjata. Panjang rotang yang dibawa kira-kira dua meteran.

Pertunjukan dimulai dengan ditabuhnya genderang seiring suara seruling. Saat musik mengalun, para pekembar, semacam koordinator pertandingan, turun ke gelanggang dan menari sambil memainkan ende.

Saat pekembar asyik menari, satu persatu pepadu turun ke gelanggang. Para pepadu akan saling berhadapan, siap bertarung.

Faktor keberanian dan ketangkasan para pepadu menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para penonton.

Sebelum bertarung, para pepadu akan diminta kesepakatannya untuk saling menjaga. Sementara, ketika pertarungan usai, para pepadu akan saling berangkulan dan bersalaman walaupun salah satu mengalami luka dan mengucurkan darah.(*)


Baca Selengkapnya......

Genjring Akrobat

GENRING akrobat berkembang di wilayah Indramayu dan Cirebon. Seni ini juga dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Berkembang dan diturunkan secara turun temurun.

Disebut genjring akrobat karena pertunjukan seni ini selalu diiringi musik genjring atau rebana. Di antaranya, umumnya juga dilengkapi tari rudat. Kesenian ini biasa digelar pada acara-acara perayaan seperti sunatan dan lain-lain.

Dalam seni ini, para pemain akan menunjukkan kebolehannya berakrobat dengan beragam media seperti sepeda beroda satu, tangga, dan sebagainya.

Di wilayah Cirebon dan sekitarnya, termasuk Indramayu, juga berkembang kesenian sengan sebutan hampir serupa yakni genjring dodog.

Seni genjring dodog ini sangat memukau. Pemainya menunjukkan keahlian mereka berayun-ayun di atas tiang bambu dengan sangat dramatik.

Belakangan pagelaran genjring dodog kerap dipadukan dengan dengan kesenian tarling, sehingga unsur dramaturgi juga sudah ada pada kesenian ini.(*)

Baca Selengkapnya......