Yans Studio, 081320550019,
email yans.juggler@gmail.com

Jumat, 01 Agustus 2008

Sirkus, Para Gadis, dan Anak-anak Pulau Krete


KALAU saja anak-anak muda di Pulau Krete di kawasan Laut Mediterania tak punya kebiasaan beratraksi melompati banteng dan memegang tanduknya saat melayang di udara, sirkus barangkali tak akan pernah ada di dunia ini.

Sekitar empat ribuan tahun lalu, anak-anak muda di pulau kecil ini memang terbiasa untuk itu. Aksi mereka ditonton oleh warga setempat, tak terkecuali para gadis remajanya yang diam-diam memilih pasangan.

Literatur terkait kisah anak-anak muda di Pulau Krete sendiri tak banyak ada, kecuali dari dongeng mulut ke mulut dan beberapa peninggalan yang menguatkannya. Meski demikian sebagian ahli percaya, inilah cikal bakal pertunjukan sirkus seperti yang kita kenal sekarang.

Sebgian ahli juga berpendapat bahwa sirkus yang kita kenal berasal dari zaman Romawi kuno, bersamaan dengan munculnya pertunjukan gladiator yang bertarung di circus maximus yang terjemahan bebasnya kira-kira berarti arena pertunjukan berbentuk lingkaran di mana para penonton duduk melingkar dan berundak (circus berarti lingkaran, maximus berarti hebat atau besar).

Di circus maximus inilah, selain gladiator biasanya juga dipertunjukkan atraksi dari para prajurit yang menunggang kereta kuda seperti yang biasa mereka pakai untuk berperang. Suasana biasanya juga dimeriahkan oleh atraksi para pemain akrobat bermain juggling (lempar tangkap) dengan aneka benda, baik berupa bola kecil, ring, atau pisau.

Dikisahkan, hampir seribuan tahun pertunjukan di circus maximus ini bertahan hingga peperangan mulai melanda negeri ini. Saat perang semakin hebat, orang tak lagi bisa datang ke circus maximus untuk menonton. Sebagian besar gladiator ikut berperang, dan para pemain akrobat kehilangan pekerjaan.

Untuk menyambung hidup, beberapa gladiator tua dan para pemain akrobat kemudian bergabung dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil inilah yang kemudian melanjutkan pertunjukkan circus dan berkeliling ke pelosok negeri, bahkan hingga ke Eropa.

Di daratan Eropa inilah kabarnya, para pemain akrobat keliling ini mulai kerap diundang untuk tampil memeriahkan pesta. Termasuk pada perayaan Santo Bartolomeus (1123) di mana hanya pemain akrobat dan pelempar paling hebat yang diundang untuk mempertunjukkan aksinya.

Dalam perkembangannya kemudian sirkus juga diramaikan dengan trapeze (palang gantung), rope-dancing, salto ungkit, trampolin, serta pertunjukan binatang, dan badut. (sumber utama: wikipedia)

Tidak ada komentar: